0
BERANDA POLITIK FOCUS PEMERINTAHAN PEMBANGUNAN HUKRIM
JAMBI PERWAKILAN DAERAH
REDAKSI SJB PEDOMAN MEDIA SIBER ADMIN
BERITA UTAMA
#idola-cilik-benaya-manullang-harumkan-nama-jambi......... #idola-cilik-asal-jambi-benaya-manullang-tampil-hari-ini-di-rcti......... #presiden-jokowi-dan-ibu-iriana-takziah-ke-kediaman-almarhum-tjahjo-kumolo......... #al-haris-ajak-sps-kolaborasi-bangun-jambi......... #pj.-bupati-tebo-dampingi-anggota-dpr-tinjau-jalan-padang-lamo-tergerus-sungai......... #pj.-bupati-aspan-kembali-galakan-jumat-bersih-di-tebo......... #merangin-siapkan-geopark-merangin-menuju-unesco-global-geopark-(ugh)......... #hindari-kucing-nyebrang,-pengendara-motor-scoopy-dan-truk-tabrakan......... #harga-sawit-jambi-periode-1-7-juli-2022-semakin-anjlok......... #pj.-bupati-aspan-hadiri-rapurna-lkpj-apbd-tebo-ta-2021..........
FOCUS

Wawako Maulana Sambut Kunjungan Direktur KfW di TPA ERiC Talang Gulo


17 May 2022

KOTA JAMBI , SJBNEWS.CO.ID - Wakil Wali Kota Jambi dr. H. Maulana menerima kunjungan Direktur Bank Pembangunan Jerman atau KfW yang membantu pendanaan pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah berteknologi tinggi yang berlokasi Talang Gulo Kota Jambi (16/5).

TPA baru di Talang Gulo mengadopsi sistem sanitary landfill, Emission Reduction in Cities (ERiC) Programme Solid Waste Management, dibangun dengan dana bernilai 245 miliar rupiah.

Wawako Maulana yang turut dididampingi oleh Kadis Lingkungan Hidup Kota Jambi Dr. Ardi mengatakan, pihak dari KfW kembali meninjau hasil pembangunan TPA Talang Gulo Kota Jambi yang telah dibangun sejak 2016 lalu."Pemkot telah menerima dana dari KfW melalui pemerintah pusat untuk pembangunan TPA Talang Gulo, karena TPA kita yang lama sudah over kapasitas dan menggunakan teknologi konvensional.

Hari ini KfW meninjau operasionalnya. Kegiatan fisiknya telah dilaksanakan pada awal tahun 2017, dan operasionalnya TPA yang baru ini sebenarnya sudah dimulai tahun 2018, sekarang sudah beroperasi penuh," ungkap Maulana.

Dalam paparannya, pihak Pemkot Jambi menjelaskan dua metode pengelolaan sampah dengan konsep Instalasi Pengelolaan Lindi (IPL).

Pihak konsultan Jerman juga selama ini telah menyarankan agar Pemkot Jambi menerapkan opsi 1+3 karena biaya operasional jauh lebih murah.

"TPA Talang Gulo menerapkan opsi 1+3, karena biaya perawatan alatnya tidak terlalu mahal, dan hasil pengeolahan itu juga baku mutu air limbah juga sudah memenuhi unsur dari syarat baku mutu sesuai aturan dari Kemen LHK," pungkas Maulana.

Emission Reduction in Cities (ERiC) Programme Solid Waste Management, merupakan proyek bantuan Pemerintah Jerman melalui German Federal Government (KfW/Kreditanstalt für Wiederaufbau), Bank Pembangunan Jerman, bernilai 14,2 juta Euro (ekuivalen 245 Milyar Rupiah), diproyeksikan akan beroperasi melayani pengolahan sampah di Kota Jambi selama 90 tahun, dengan konsep "go green" ramah lingkungan.

Yang turut membanggakan, Kota Jambi merupakan 1 dari 4 daerah di Indonesia, selain Sidoarjo, Malang dan Jombang, yang mendapatkan bantuan untuk pembangunan tempat pengolahan sampah dengan menggunakan sistem teknologi Jerman tersebut. Bahkan Kota Jambi adalah satu-satunnya daerah diluar Pulau Jawa yang mendapatkan bantuan ini.

Bahkan Kota Jambi juga menjadi terdepan, karena pertama kali siap mengoperasikan TPA tersebut. Pembangunan TPA ini sudah dirintis sejak kepemimpinan Wali Kota Arifin Manap, kemudian dilanjutkan oleh Wali Kota dr. Bambang Priyanto, namun selama perjalanannya, proyek ini mandek dan tidak ada follow up pendanaannya karena persaingan untuk mendapatkan bantuan ini luar biasa sulit.

Akhirnya sejak kepemimpinan Wali Kota Jambi H. Syarif Fasha, yang mulai merintis kembali lobi pendanaannya hingga keluar negeri, negara Jerman akhirnya mau memilih Kota Jambi untuk pendanaan proyek ini. Mendesaknya pengoperasian TPA dengan sistem sanitary landfill ini, menurut Wali Kota Fasha dikarenakan kapasitas dan daya tampung TPA Talang Gulo yang lama, sudah tidak mampu lagi menampung sampah yang dihasilkan di Kota Jambi.

Terlebih, TPA Talang Gulo yang lama hanya berteknologi semi "Open Dumping", menggunakan metode lama. Imbasnya, kemampuan mengolah sampah di Kota Jambi juga mulai terbatas. Lebih lanjut, Wali Kota Fasha menjelaskan untuk tahap awal, lahan yang tersedia akan memuat 3 cell, dimana setiap cell-nya akan beroperasi menampung dan mengolah sampah selama 30 tahun.

Dalam setiap selnya pula, TPA ini mampu menampung sebanyak 620.000 ton kubik sampah dengan teknik sorting (pemilahan), composting (pengomposan) dan Leachate Treatment Plant/LTP (pengolahan sampah anorganik).

"Dengan sistem modern ini, sampah yang masuk ke TPA sudah melalui tahapan pemilahan, sehingga yang diprioritaskan masuk adalah sampah organik.

Sampah yang berasal dari sumber, terlebih dahulu akan melalui tahap pemilahan, daur ulang, dan sebagian akan menjadi bahan baku sumber energi listrik dan gas dalam pengolahan instalasi Integrated Resource Recovery Center (IRRC) Waste to Energy (WTE), yang saat ini berlokasi di Pasar Talang Banjar," ungkap Fasha. (DIS)