BERANDA POLITIK FOCUS PEMERINTAHAN PEMBANGUNAN COVID-19
MENU
REDAKSI SJBNews PEDOMAN MEDIA SIBER ADMIN
Pengunjung: 632001
SJBNews / FOCUS, LIFESTYLE, PENDIDIKAN / Detail Berita
Kamis, 26 Desember 2019, 20:43 WIB 220 x baca
Personal Development : Kiat Menjadi Pribadi Melejit Ala Stephen Covey
Redaksi SJBNews

Aryo Dipo Murti

JAMBI, SJBNews.

OPINI. Salah satu buku pengembangan diri yang fenomenal adalah 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey yang ditulis pada tahun 1989. Saya sendiri mulai ‘berkenalan’ dengan metode ini saat mengikuti pelatihan leadership untuk pembekalan pejabat eselon IV di Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian keuangan. Walaupun buku ini sudah berusia 30 tahun, tetapi ilmu di dalam buku ini masih relevan diajarkan oleh praktisi pengembangan diri & karir hingga saat ini.

Mengapa pengembangan diri menggunakan pendekatan habits? Mungkin ini relevan dengan ungkapan yang sering kita dengar, "First we make our habits, then our habists make us”. Artinya kita bisa membentuk kebiasaan, kemudian kebiasaan-kebiasaan itu yang membentuk diri kita. Itulah yang menjadi dasar pemikiran para ahli pengembangan diri.

Pada tulisan ini, saya tidak membahas semua tetapi hanya akan membahas 3 pilar habits pertama, yang merupakan bagian dari 7 Habits of Highly Effective People. Ini adalah tiga pilar pertama yang fokusnya untuk menuju kemenangan pribadi. Karena tentulah kita bersepakat, bahwa untuk bisa memberikan kontribusi dan karya yang jempolan bagi lingkungan kerja anda, harus diawali oleh diri sendiri. Menariknya kebiasaan yang dimaksud Covey bukan hanya soal tindakan fisik, melainkan kebiasaan yang menyangkut pola berpikir. Baiklah kita bahas satu per satu.

Pilar habit yang pertama adalah Be Proaktive, jadilah pibadi yang proaktif. Untuk kemenangan pribadi, menurut Stephen Covey kita harus mempunyai kebiasaan untuk tidak bereaksi negatif terhadap situasi. Melainkan harus proaktif, artinya aktif mengambil prakarsa. You create your own destiny. Berani mengambil inisiatif, walaupun kondisinya tidak sesuai yang anda harapkan, dan take full responsibility.

Marilah kita lihat dari contoh yang lebih nyata. Berapa banyak mahasiswa di kampus yang menjadi malas belajar hanya karena tidak simpatik dengan dosennya, sehingga nilainya harus jeblok. Berapa banyak karyawan yang mengalami demotivasi hanya karena tidak cocok dengan atasannya, lalu kinerja menjadi merosot. Begitu banyak orang menjadi pasif hanya karena sibuk menyalahkan hal-hal yang diluar dirinya. Sikap pasif dan membiarkan lingkungan sekitar membentuk arah hidup kita, hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang kering akan kontribusi dan prestasi.

Maka untuk bisa bersikap proaktif seperti anjuran Stephen Covey, kita harus mengubah cara pandang kita. Walaupun bos tidak ramah, harus tetap bersikap baik dan menjaga kinerja kita. Walaupun bawahan tidak kompeten, pelan-pelan kita bimbing sampai bisa. Walaupun ditempatkan di daerah terpencil, jangan patah semangat dan terus mengasah kompetensi.  Sikap proaktif artinya kita bisa mengendalikan situasi, bukan dikendalikan oleh situasi.

Pilar yang kedua adalah Begin with The End in Mind, Mulai dari yang Akhir. Maksudnya dalam setiap merencanakan sesuatu, baik pekerjaan atau goal pribadi, tujuan akhir ditaruh di depan sebagai sumber motivasi. Buatlah tujuan akhir yang hendak Anda capai, dan gambarlah blueprint yang jelas untuk mencapainya. Dengan menetapkan tujuan akhir yang hendak anda capai, kita akan  lebih berorientasi mencapai tujuan akhir yang kita harapkan. Segala fokus perhatian dan tidakan kita akan terarah untuk mencapai goal tersebut.

Contohnya, seorang karyawan A masuk ke kantor visi : menjadi karyawan terbaik, mencapai jabatan direktur. Setiap hari ia bekerja sungguh-sungguh, memantaskan prilaku, dan terus mengasah kemampuan. Sementara Karyawan B masuk ke kantor tanpa memiliki visi kecuali bekerja ala kadarnya yang penting mendapat gaji. Dapat diprediksi, karyawan A berpeluang untuk lebih moncer dalam karir dibandingkan karyawan B di masa depan.

Terkait habit satu ini, Stephen Covey bahkan memberi ilustrasi yang lebih jauh lagi. Ia mengatakan “Silakan anda bayangkan, saat anda meninggal dunia, anda ingin orang bicara apa tentang anda?”. Pesan yang ingin disampaikan kaitannya dengan habit “Begin with the end” adalah bidik target akhir setinggi mungkin. Kalau anda mahasiswa, bidiklah bagaimana bisa lulus dengan cum laude. Kalau anda karyawan, tidak ada salahnya membidik posisi direktur dalam target anda. Bidiklah target yang tinggi, dah fokuslah bagaimana agar bidiikan anda tercapai.

Orang yang tidak mengenal prinsip habit “begin with the end” dalam kehidupan pribadinya, bisa berakibat fatal.  Akibatnya dari orang-orang yang tidak memiliki visi di masa depan sebenarnya mungkin sering anda saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Karyawan atau bahkan pejabat yang semasa kerja berkecukupan tetapi tidak merencanakan masa tuanya dengan baik, harus pensiun dengan hidup serba kekurangan. Artinya segala sesuatu di masa depan memang harus direncanakan, baik itu pencapaian target dalam korporasi hingga kesuksesan yang sifatnya pribadi, seperti perencanaan keuangan di masa tua.

Pilar Habit yang ketiga adalah Put First Things First, utamakan yang harus diutamakan. Dengan kata lain, prioritaskan yang paling penting dalam kehidupan dan pekerjaan kita. Betapa sering hal-hal kecil yang tidak penting sering menguras waktu kita. Segala jenis interupsi bisa mengganggu produktivitas kita. Kita tidak akan mencapai goal yang diinginkan bila kita tidak membuat prioritas yang harus kita kerjakan.

Dalam dunia kerja, kita sering mendengar istilah multitasking. Sering kali kita terlibat dalam begitu banyak kegiatan atau proyek, dengan alasan multitasking. Seolah dengan multitasking, akan membuat kita sibuk dan makin produktif. Padahal, itu adalah suatu kesalahan besar. Hampir semua studi sepakat : melakukan multitasking justru membuat produktivitas Anda kolaps, dan amat membahayakan bagi kinerja diri Anda. Pekerjaan-pekerjaan yang anda lakukan mungkin memang bisa selesai dengan multitasking, tetapi selesai dalam level ala kadarnya. Bukan selesai dengan hasil terbaik.

Tentulah anda boleh berargumen bahwa pekerjaan anda memang banyak dan sibuk. Tetapi pakar manajemen merumuskan sebenarnya hanya ada 20% variabel yang berdampak pada 80% hasil. Artinya ada sedikit pekerjaan (20%) yang bila dikerjakan secara serius, dampaknya signifikan. Anda harus menemukan 20% variabel ini, yang bisa berdampak besar pada kinerja, lalu fokuskan semua resource anda di sana. Lihat apa yang terjadi.

Sebagai contoh, mahasiswa semester akhir biasanya disibukkan dengan peyusunan tugas akhir atau skripsi. Maka kesibukan lain seperti ikut kegiatan kemahasiswaan, naik gunung, menghadiri seminar, tentulah untuk sementara bisa dinomorduakan demi menyelesaikan skripsinya. Mencurahkan fokusnya pada hal yang terpenting saat ini, yaitu menyelesaikan skripsi. Hal ini yang sebenarnya logis dan sederhana tetapi tak kunjung dipahami oleh banyak mahasiswa. Buktinya masih kita sering jumpai mahasiswa yang kelihatannya sibuk tetapi tak kunjung lulus.

Selain untuk keperluan personal life, Pilar Habit “Put First Things First” sebenarnya sudah dimplementasikan dengan baik dalam profesional life organisasi-organisasi masa kini. Organisasi masa kini sudah merumuskan secara tertulis apa-apa yang benar-benar penting dan berdampak atas kinerja mereka. Dalam organisasi mungkin akrab dengan istilah KPI atau key performance Indikators. KPI adalah metrik yang digunakan untuk membantu suatu organisasi menentukan dan mengukur kemajuan terhadap sasaran apa-apa yang penting bagi organisasi. Dalam dunia bisnis, KPI digunakan untuk menilai keadaan kini suatu bisnis dan menentukan suatu tindakan terhadap keadaan tersebut. Dalam dunia birokrasi pemerintahan, kita mengenal istilah Indikator Kinerja Utama atau IKU. Kesimpulannya organisasi modern memang sudah sadar dan bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak, sejalan dengan prinsip HabitPut First Things First”. Marilah kita fokus pada hal-hal yang penting tersebut.

Itulah 3 pilar habits untuk membentuk pribadi melejit. Sejatinya, kita adalah kebiasaan kita. Apabila merubah nasib, memperbaiki prestasi dan mencapai goal di masa depan maka kita harus mengubah kebiasaan-kebiasaan kita. Seperti kata Albert Einstein, insanity is doing the same thing over and over, but expecting different result.

Penulis : Aryo Dipo Murti ; Kepala Seksi Verifikasi Akuntansi di Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan

 

           

 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Senang
0%
Terhibur
0%
Terinspirasi
0%
Bangga
0%
Terkejut
0%
Sedih
0%
Takut
0%
Marah
0%